Main | February 2007 »

Congratulation to Muhammad Yunus and Grameen Bank

Selamat kepada pemenang Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Muhammad Yunus memang pantas menerima nobel perdamaian atas dedikasinya menciptakan perdamaian mulai dari akarnya, yaitu memberantas kemiskinan.
Kemiskinan adalah musuh bersama dan akar dari semua masalah. Kemiskinan, kesenjangan sosial dan ketidakadilan adalah akar masalah dari terorisme.
Selama ini pemenang nobel perdamaian kebanyakan memang mereka yang berkutat upaya mencipatakan perdamaian secara eksplisit, seperti akibat perang, perang saudara, dll.
Muhammad Yunus adalah tokoh kelahiran Chittagong (Bangladesh) tahun 1940. Dia merintis Grameen Bank pada tahun 1974, ketika dia menjabat sebagai guru besar ekonomi di Univ Chittagong. Hal yang membuatnya terjun untuk memerangi kemiskinan adalah karena melihat ‘ironi’ yang terjadi di masyarakat. Sbg akademisi, dia merasa berdosa, “Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan. Saya mulai membenci diri sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa mengatasi masalah kemiskinan. Kami professor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya memutuskan kaum papa harus menjadi guru saya”
Grameen Bank adalah sebuah lembaga keuangan mirko (microfinancial) yang memberikan kredit kepada orang miskin. Definisi Grameen Bank diambil dari bahasa Bengali yang artinya Bank Desa atau Bank Pedesaan.
Apa bedanya dg lembaga kredit lain seperti perbankan? Grameen Bank tidak mensyaratkan agunan/jaminan/collateral seperti bank pada umumnya. Hal ini tentu saja memberikan kemudahan kepada orang miskin. Muhammad Yunus memiliki keyakinan bahwa orang miskin harus diberi kesempatan. Mereka bisa mengurus dirinya sendiri asalkan diberikan kredit.
Prinsip yang diterapkan pada perbankan pada umumnya adalah, semakin banyak yang Anda punya maka semakin banyak yang Anda dapatkan. Jika Anda tidak punya sedikitpun maka Anda tidak akan mendapat apapun. Jadi, mereka yang memiliki jaminan besar akan mendapatkan kredit dg jumlah yg besar.
Bagaimana dg Grameen Bank? Grameen Bank berangkat dari keyakinan bahwa kredit seharusnya diterima sebagai bagian dari hak asasi manusia. Seseorang yg tidak memiliki kekayaan apapun justru dialah yang mendapatkan prioritas untuk mendapatkan pinjaman.
Sasaran bank pada umumnya adalah orang-orang kaya. Tujuannya adalah memaksimalkan keuntungan.
Sasaran Grameen Bank adalah memberikan layanan finansial pada orang miskin, khususnya perempuan.
Bank pada umumnya banyak yang berpusat di perkotaan. Grameen Bank biasanya berada di pedesaan karena desa adalah kantong kemiskinan. Grameen Bank justru mendekat kepada masyarakat miskin. Di Bangladesh, sebanyak 13.866 staf Grameen Bank bertemu dengan 4,63 juta peminjam di depan pintu rumah yang tersebar di 52.829 desa.
Pembayaran di bank pada umumnya rumit dan bunganya berlipat ganda hingga mencekik leher. Pembayaran di Grameen Bank sangat sederhana, bisa mingguan bahkan harian. Bunga yang ditetapkan juga ringan. Namun Grameen Bank berbeda dengan tengkulak. Tengkulak juga mencekik rakyat. Grameen Bank tidak karena bunga yang dikenakan tidak tinggi.

Grameen Bank sudah terbukti mampu memberantas kemiskinan di Bangladesh. Kini, Grameen Bank memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa dengan 94 persen modal dimiliki oleh orang miskin. Sebanyak 96 persen nasabahnya adalah kaum perempuan.

Mestinya Indonesia belajar dari Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Selama ini isu kemiskinan hanya menjadi isu jualan publik. Pemerintah cenderung berada dalam batas wacana. Program kemiskinan hanya menjadikan orang miskin sbg objek, bukan subjek. Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta.
Berbicara masalah Grameen Bank, aku jadi ingat dengan sebuah tulisan Grameen Bank pada sebuah diskusi tentang kemiskinan, pertengahan tahun 2005. Tulisan tsb menganalisis tentang adaptasi Grameen Bank di Indonesia.
Menurutku kita tidak usah malu-malu mengadopsi Grameen Bank. Sistem ini justru skrg banyak diterapkan oleh berbagai negara. Bank Dunia yang tadinya memandang sebelah mata, kini memandang mengadopsi gagasan kredit mikro.
Pemberantasan kemiskinan yang dilakukan Muhammad Yunus dan Grameen Bank adalah bukti konkret. Selama ini kemiskinan sekedar menjadi komoditas berbagai lembaga internasional, seperti Bank Dunia, UNDP, IMF, ADB atao se-abreg lembaga lainnya.
Langkah yang dilakukan Muhammad Yunus dengan Grameen Bank dapat menjadi contoh bagi kita semua.
Kapan negara kita mau mencontoh Grameen Bank?

Mahasiswa dan pengemis

Aku ga’ jadi pulang tanggal 17 Okt. Tadi aku dari Bogor, tiket kreta untuk tgl 17 Okt udah habis smuanya. Jadinya aku tetep pulang tgl 20 Okt. Ya udah, ga’ apa2. Tapi aku harus memanfaatkan waktu luangku di sini dg kegiatan yg berguna, terutama menulis. Aku butuh duit untuk persiapan masa depan!!!!

 Tadi aku naek KRL. Di KRL aku liat pengemis, pengamen dan segala macam orang yg nasibnya kurang beruntungt. Aku jadi berpikir, apakah hidup ini memang seleksi alam? Apakah harus ada orang yang berada di bawah dan orang yang berada diatas. Harus ada orang miskin dan orang kaya? Harus ada orang yang sehat walafiat dan orang cacat yg mengais rezeki dg seadanya? Apakah harus ada orang tamak dan orang rakus????

 Lalu ketika terdapat program anti kemiskinan, program kesejahteraan atau program apapun, apakah tetap harus ada orang miskin? Apakah miskin adalah sebuah keniscayaan? Apakah memang harus ada jurang antara si Kaya dan si Miskin?

 Atau negara ini sudah salah urus? Padahal dalam konstitusi dasar, jelas2 tercantum, “...fakir miskin dan orang terlantar dipelihara oleh negara...” apakah negara ini sudah melupakan kewajiban mereka? Kalo begitu, untuk apa ada negara Indonesia jika keadaannya seperti ini?

 Aku jadi teringat dg lagu ‘tanah air’ :

 

Tanah air ku tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak kan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyur permai dikata orang

Tetapi aku dan rumahku

Disanalah ku rasa senang

Tanahku yang ku tak kulupakan

Engkau kubanggakan

Tanah air ku tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak kan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

 

 Ini adalah lagu yang tiap hari kedungarkan. Aku jadi suka dengan lagu ini. Dari lagu ini memang dapat diambil kesimpulan meskipun bahwa tanah air Indonesia memang adalah darah daging. Aku sendiri mencintai tanah air, Indonesia. Aku lahir dan ingin mati di Indonesia (seperti yang kutulis di Friendster). Meskipun negeri ini sudah bobrok namun aku tetap mencintainya. Justru dengan kebobrokannya aku berniat ingin merubahnya. Ini adalah salah satu cita2 hidupku. Aku harus mampu membuat perubahan di negeri ini. Tentu saja perubahan memang tidak bisa dilakukan hanya oleh satu orang. Negeri ini tidak butuh SUPERMAN, namun Indonesia butuh SUPERTIM. Kita harus mampu bekerja dalam TIM yang mampu memberikan perubahan ke arah yang lebih baek. Dengan adanya TIM yang kuat pula, maka individu-individu yang sudah unggul tinggal digabungkan keunggulannya.

 Indonesia memang banyak memiliki prestasi individual. Namun mengapa negeri ini masih dalam kubangan kemiskinan, kemelaratan, korupsi dan segela keburukan yang jika kusebutkan satu persatu di sini pasti akan membuat hati pedih (maksudku adalah ‘hati nurani’).

 Kmrn aku buka FS, begitu di bagian ‘home’ mataku tertuju pada tulisan ‘update blog’ terutama pada blog salah satu temenku, yaitu Nia, temenku seangkatan. Sempet kubaca, kurang lebih begini, “...setelah berkecimpung dalam kegiatan kemahasiswaan, sekarang aku sudah apatis dengan kegiatan kemahasiswaan, begitu pula ketika mendengar mars teknik dan yel teknik...” Aku ga’ hapal dengan isi lengkapnya.

 Apakah kegiatan kemahasiswaan memang sudah berubah. Hanya sekedar menjalankan kegiatan dan tahun ke tahun. Lalu apa bedanya dengan kegiatan di SMU. Ketika aku baru masuk, aku langsung dicekoki dengan idealisme bahwa mahasiswa memiliki peran yang penting dalam perubahan bangsa. Demikian juga ketika aku sudah menjadi senior. Aku senatiasa mencekoki kepada mahasiswa baru tentang pentingnya mahasiswa dalam perubahan bangsa. Kmrn waktu PPAM teknik, aku masih ingat kalo aku merecoki maba dengan nilai-nilai ke-IKM FTUI-an. Apakah hal itu masih relevan dg kondisi sekarang?

 Namun apakah mahasiswa skrg masih spt yang sulu. Mahasiswa sudah tidak memiliki peran yang signifikan dalam perubahan bangsa. Hal inilah yang membuatku ingin cepat lulus dan memasuki dunia profesi. Aku ingin segera memberikan yang terbaik untuk bangsa ini. Ketika dengan menjadi mahasiswa aku merasa tidak sanggup untuk memberikan dampak positif terhadap masyarakat, lalu buat apa menjadi mahasiswa yang hanya berteriak-teriak. Memang benar kalo kita mesti usaha. Namun usaha sampai kapan? Sampai suara dan tenggorokan ini kering?????

Blog di FS kadang2 aneh???

Kenapa kok blog di FS kadang2 aneh? Kadang2 ga' bisa dibuka, skrg bisa dibuka. jadinya aku bikin blog juga di blospot.com, tapi juga belom diisi dg serius. Malez mindahin catatan harian dari laptop ke blog. Padahal tinggal mindahin doank...